Brilio.net - Melihat aksi wanita paruh baya meracik jamu dari botol kaca ke dalam gelas kecil, mungkin jadi pemandangan biasa bagi sebagian anak 90-an. Pemandangan ini tentu sudah jarang terlihat seiring tergerusnya penjual jamu gendong yang sekarang hanya jadi kenangan bagi generasi milenial.

Meski tidak dirasakan semua anak 90-an, minum jamu pada pagi atau sore hari jadi salah satu momen paling berkesan. Entah karena harus kabur untuk menghindari, atau justru bersemangat menunggu kedatangan sosok wanita berkebaya memanggul bakul jamu.

Apapun kenangan tentang jamu yang terukir, minuman tradisional ini ternyata sudah hadir menemani masyarakat Indonesia sejak lama. Tradisi minum jamu bahkan diperkirakan sudah ada sejak tahun 1300 pada zaman Kerajaan Mataram.

Tak kalah dengan Ayuvreda dari India dan Zhongyi dari Cina, sampai kini jamu juga masih jadi kebanggaan orang Indonesia. Bukan tanpa alasan, minuman warisan nenek moyang ini terkenal dengan khasiatnya yang dipercaya mampu menjaga kesehatan dan mencegah bermacam-macam penyakit.

Manfaatnya yang sudah dipercaya secara turun temurun, tak lepas dari racikan jamu yang terdiri dari bahan-bahan tumbuhan obat dan rempah-rempah asli Indonesia. Jahe, kencur, kunyit, lengkuas, temulawak, sereh, dan kayu manis merupakan beberapa bahan jamu yang sering digunakan. Jeruk nipis, gula Jawa atau gula batu, dan asam Jawa sering dijadikan pelengkap untuk memberi rasa segar dan manis pada jamu.

Dalam sejarahnya, kebiasaan minum jamu memang sempat ditinggalkan, terutama oleh generasi muda. Selain berkat kemajuan ilmu kedokteran modern, rasa pahit yang mendominasi dalam jamu juga membuat anak muda memilih tidak meminumnya.

Meski begitu, bak tren fashion yang terus berputar, minum jamu kini kembali digemari banyak orang, termasuk anak muda. Ya, sejak pandemi menghantam pada awal 2020, tingkat kepedulian masyarakat terhadap kesehatan terus meningkat. Jamu sebagai minuman yang dipercaya berkhasiat bagi kesehatan sekarang kembali dilirik.
 
-

Kembalinya tren minum jamu pada masa pandemi


Seperti yang dilakukan lelaki bernama Krisdiyanto misalnya. Cowok 23 tahun ini merupakan salah satu anak muda yang mulai mengonsumsi jamu pada masa pandemi.

Posisi kos yang berdekatan dengan kedai penjual jamu membuat cowok yang akrab disapa Kris ini semakin penasaran untuk mencoba minuman khas Indonesia tersebut.

"Ya, awalnya karena tahu ada kedai jamu di deket kos. Terus diajakin temen buat nyoba (minum jamu) di sana. Kan ekspektasi orang jamu itu pahit. Biasanya jamu itu (disajikan) dalam bentuk saripati. Nah, (di tempat) ini nggak, ini cuma kayak wedang (rempah-rempah jamu) digeprek. Jadi itu (jamu) kan fresh banget. Nah, itu hal baru buat saya," jelas Kris saat ditemui brilio.net pada Selasa (8/12).

Penyajian jamu yang berbeda dari yang biasa ditemui, membuat Kris tertarik dan merasa cocok dengan seleranya. Terlebih, minum jamu pada masa pandemi dirasa jadi momen yang tepat sebagai bentuk perlindungan diri.

"Selain cocok sama rasanya, tahu juga itu (jamu) ada khasiatnya. Baik buat badan, buat jaga imun, jadi saya makin sering minum (jamu) di situ," pungkas Kris.

tren minum jamu selama pandemi © 2020 berbagai sumber

foto: brilio.net/Annisa A Hapsari  

Loading...



Sejak pertama mencoba pada awal September lalu hingga saat ini, Kris meneruskan minum jamu sebagai rutinitas. Karyawan salah satu perusahaan startup di Yogyakarta ini mengaku bisa mengonsumsi jamu hingga lima sampai enam kali setiap bulannya.

Kris lebih sering mengunjungi kedai jamu yang berada di daerah Condongcatur, Yogyakarta. Biasanya ia langsung ke sana ketika merasa sedang kurang enak badan.

"Kalau lagi kurang enak badan, terus malamnya minum (jamu) di situ itu, besok paginya pas bangun tidur jadi seger lagi (badannya). Terus kalau batuk atau pilek itu, malamnya minum (jamu) ditambah istirahat yang cukup, jadi berkurang intensitas batuk sama pileknya," ujar Kris dengan antusias.    
 
Ketika ditanya tentang jenis jamu yang minum, Kris mengatakan jika dirinya tidak memiliki menu jamu favorit. Lebih lanjut, cowok asal Lampung ini menjelaskan, ia sudah mencoba beberapa jenis jamu yang dijajakan di kedai tersebut.

tren minum jamu selama pandemi © 2020 berbagai sumber

foto: brilio.net/Annisa A Hapsari



Salah satunya seperti racikan jamu yang terdiri dari kencur, kunyit, jeruk nipis, sereh, gula aren, dan cengkih. Menurut Kris, racikan jamu yang ia minum bisa membantu meredakan batuk yang sedang dideritanya.

"Kata bapaknya (pemilik kedai jamu), kalau lagi batuk bagusnya minum jamu yang ada kunyitnya," imbuh Kris.

-

Jamu mulai kembali dilirik anak muda  


Berbeda dengan pengalaman Kris, kebiasaan minum jamu ternyata juga sudah mulai dilirik anak muda sebelum masa pandemi. Esti, seorang karyawan salah satu perusahaan swasta di Jogja adalah contohnya.

Esti mengaku mulai mengonsumsi jamu sejak pertengahan tahun lalu, tepatnya pada Agustus 2019. Menurut pengakuan cewek 26 tahun ini, alasan utamanya mengonsumsi jamu untuk mengatasi alergi dingin yang dideritanya sejak lama.

"Awalnya tuh emang karena (untuk mengatasi) alergi dingin karena sering bersin. Terus jamunya itu digunakan buat aromaterapi buat hidung. Jadi, pertamanya untuk aromaterapi yang herbal. Akhirnya setelah baca-baca, tahu kalau manfaatnya bagus, jadi sekalian diminum, buat obat, ternyata bisa buat meredakan peradangan di hidungku," cerita Esti ketika ditemui brilio.net pada Senin (7/12).

Ketertarikan Esti terhadap jamu diawali setelah ia membaca informasi tentang khasiat jamu dari artikel-artikel di internet. Tak berhenti sampai di situ, Esti juga mengikuti beberapa akun Instagram dan YouTube yang membahas topik kesehatan berbasis herbal. Salah satunya yaitu akun Instagram dr Zaidul Akbar.  

"Terus aku cari di YouTube, di Instagram (tentang) resep JSR (Jurus Sehat ala Rasulullah) dari dr Zaidul Akbar. Nah, dari situ, (mulai) bikin infused water, bikin jamu buat diminum. Terus ngikutin resep (dr Zaidul Akbar) cara mencegah alergi, cara mencegah peradangan di hidung, cara meningkatkan imun (yang sangat penting) apalagi saat pandemi ini," jelas Esti.

tren minum jamu selama pandemi © 2020 berbagai sumber

Bahan-bahan jamu yang terdiri dari jahe, sereh, kunyit, dan jeruk nipis
foto: brilio.net/Annisa A Hapsari



Berbeda dengan Kris, Esti lebih memilih membuat sendiri jamu yang akan ia minum. Untuk mengatasi alergi dingin dan masalah hidungnya, Esti biasanya menggunakan campuran jahe, sereh, dan kunyit yang direbus bersamaan. Biasanya ia juga akan menambah jeruk nipis dan madu sebagai pelengkap.

Tak hanya itu, cewek yang hobi memasak ini terkadang mengganti racikan jamunya dengan campuran kayu manis dan cengkih. Esti juga sempat mencoba racikan baru dengan merebus ketumbar yang nantinya air rebusan itu akan ia minum.

tren minum jamu selama pandemi © 2020 berbagai sumber

Proses merebus bahan-bahan menjadi jamu
foto: brilio.net/Annisa A Hapsari



Rasa yang kuat dari campuran jahe, sereh, dan kunyit tak mengurangi minat Esti pada jamu. Selain mudah dibuat dan terjangkau, keinginan Esti untuk lebih sehat dan berstamina mulai terwujud setelah ia rutin mengonsumsi jamu.

Ya, setelah rutin minum jamu seminggu tiga kali selama satu tahun lebih, Esti kini sudah merasakan khasiatnya. Mulai dari hidung yang terasa lebih nyaman hingga badan yang jauh lebih bugar.

tren minum jamu selama pandemi © 2020 berbagai sumber

Minuman jamu ala Esti
foto: brilio.net/Annisa A Hapsari



"Kalau efeknya itu, aku merasakan (lebih) enak sih, ketika menghirup udara. Aku merasa ada perubahan, jadi lebih plong aja hidungnya. Terus karena minum jamu, daya tahan tubuhku kayak makin meningkat. Jadi kalau misalnya (cuaca lagi) dingin, biasanya tuh kayak langsung pilek, ini (alergi dingin) udah berkurang. Masih ada (alergi dingin), tapi udah jauh berkurang," tutur Esti.

-

Tren minum jamu selama pandemi menurut ahli kesehatan


Kris dan Esti merupakan beberapa orang yang sudah merasakan langsung khasiat jamu bagi kesehatan, khususnya dalam meningkatkan imunitas tubuh. Hal ini ternyata serupa dengan pernyataan ahli dan konsultan gizi, Mirza Penggalih, tentang peranan jamu dalam menaikkan daya tahan tubuh seseorang.

Dosen Departemen Gizi Kesehatan FKKMK di Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjelaskan, jamu yang berasal dari tanaman obat memang mengandung banyak vitamin, mineral, dan zat-zat aktif. Kandungan ini dapat meningkatkan sistem imunitas tubuh sehingga bisa menangkal virus.

"Banyak studi yang menguji kebermanfaatan zat-zat aktif dalam tanaman obat seperti Curcumin, Resveratrol, Quercetin, Rhamnetin, Epigallocatechine, Phyllantin, dan Kaempferin sebagai immunomodulator. Zat-zat aktif tersebut banyak terkandung di dalam kunyit, temulawak, jahe, sereh, kayu manis, kencur, buah anggur, buah jambu biji, meniran, daun kelor, dan teh hijau," ungkap Mirza kepada brilio.net lewat pesan elektronik pada Kamis (10/12).

tren minum jamu selama pandemi © 2020 berbagai sumber

foto: freepik.com



Mirza juga mengatakan, jamu bisa dijadikan sebagai suatu pencegahan terhadap Covid-19 dalam hal membantu meningkatkan imunitas tubuh. Meski begitu, ampuh atau tidaknya jamu dalam menangkal virus corona belum bisa dipastikan.

"Kalau seberapa ampuh, memang belum ada kajian ilmiah yang menyeluruh (termasuk uji klinis terhadap pasien penderita Covid-19) terkait konsumsi jamu terhadap peningkatan suseptibilitas Covid-19. Jadi belum bisa ditegaskan juga. Tapi sebagai bentuk pencegahan dan peningkatan sistem imun bisa jadi efektif," tutur wanita yang juga aktif sebagai Senior Consultant di FIRST Sport Nutrition Consulting tersebut.

-

Curcumin, kandungan jamu pencegah virus


Beberapa tanaman yang sering dikonsumsi menjadi jamu yaitu jahe (Zingiber officinale), kunyit (Curcuma longa L), dan temulawak (Curcuma xanthorrhizha roxb) mengandung curcumin yang sangat baik bagi tubuh. Berbagai penelitian menunjukkan curcumin berkhasiat sebagai antibakteri, antioksidan, antiinflamasi, antikanker, antivirus, penurun gula darah dan juga sebagai immunomodulator.

Mirza menjelaskan, curcumin disebutkan mampu meningkatkan ekspresi enzim ACE2 (Angiotensin-converting-enzyme2) yang merupakan reseptor dari Covid-19. Kendati demikian, pernyataan curcumin menyebabkan peningkatan reseptor Covid-19 juga masih kontradiktif, terkait dengan banyaknya riset terkait manfaat klinis kunyit dan temulawak sebagai bahan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

"Berdasarkan suatu studi, curcumin ini dapat berikatan dengan reseptor protein SARS-CoV 2, yaitu melalui ikatan dengan domain protease (6Lu7) dan spike glikoprotein. Ikatan ini berpotensi untuk menghambat aktivitas Covid-19," ujar wanita yang meraih gelar doktornya pada 2017 lalu itu.

tren minum jamu selama pandemi © 2020 berbagai sumber

foto: freepik.com



Kemampuan curcumin yang memiliki efek menghambat proses pertumbuhan virus itu membuatnya berfungsi sebagai tahapan mencegah virus. Tak heran jika jahe, kunyit, dan temulawak sangat cocok dikonsumsi sebagai jamu untuk meningkatkan imunitas tubuh agar tetap sehat, terutama selama masa pandemi.

"Banyak kajian pra-klinik dan klinik terkait curcumin yang memiliki efek immunomodulator, sehingga relevan sebagai tahap preventif Covid-19," imbuhnya.

-

Anjuran ahli kesehatan soal minum jamu


Ketika ditanya tentang anjuran mengonsumsi jamu, pemilik nama lengkap Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih ini mengungkapkan jika belum ada anjuran pasti terkait berapa banyak porsi dan takaran jamu yang harus diminum per harinya.

"Dalam hal meningkatkan imunitas ya tentu harus dibarengi dengan pola makan yang baik, yang porsinya pas dan semua zat gizi dipenuhi (seperti vitamin A, C, E,D yang mampu meningkatkan imunitas juga), dengan aktivitas fisik, juga dengan manajemen stres, kan psikosomatis banget," jelas wanita kelahiran 1981 tersebut.

Lebih lanjut, ia mengatakan orang yang punya aktivitas fisik berlebihan, bekerja di luar rumah, dan orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, sangat dianjurkan untuk mengonsumsi imunostimulan. Pengelolaan stres juga tak kalah penting karena memengaruhi kekebalan tubuh.

Nah, bagaimana dengan kamu? Tertarik juga untuk hidup sehat dengan rutin minum jamu?





RECOMMENDED